Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kiat CEO Foodizz Hadapi Ancaman Resesi

Begini cara founder dan CEO Fodizz hadapi ancaman resesi dunia tahun depan.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 27 November 2022  |  12:38 WIB
Kiat CEO Foodizz Hadapi Ancaman Resesi
Tips bisnis planning - istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sinyal resesi atau perlambatan ekonomi yang diprediksi terjadi pada 2023 tampaknya kian menguat.

Ditandai dengan tingginya nilai inflasi yang diiringi dengan kenaikan suku bunga acuan di sejumlah negara sehingga menyebabkan perekonomian dunia melemah.

Meski dunia akan mengalami resesi tetapi banyak pihak yang memperkirakan Indonesia bakal kebal terhadap resesi, terlihat dari pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III mencapai 5,72% secara year on year, begitu pula dengan neraca perdagangan yang kembali mencatatkan nilai surplus.

Ini jelas menjadi kabar gembira bagi para pelaku usaha di Indonesia. Meski demikian, para pelaku usaha harus tetap mengantisipasi apapun kondisi dan situasi yang akan terjadi pada 2023 mendatang, jangan sampai lengah yang akan berakibat fatal bagi perkembangan bisnisnya.

Rex Marindo, Founder & CEO Foodizz mengatakan bahwa 2023 menjadi tahun yang penuh dengan tantangan, tetapi pelaku usaha juga harus bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

“Kalau pun pada 2023 tidak terjadi resesi maka kita sudah siap dan justru bisa menjadikan 2023 sebagai opportunity year artinya kita bukan hanya bisa bertahan tetapi juga bertumbuh bahkan menyerang dan bisa berlari kencang karena sudah lebih siap,” ujarnya.

Menurutnya salah satu dampak resesi adalah kenaikan harga bahan baku sehingga bisa membuat profit menjadi tergerus. Karena itu pelaku usaha perlu melakukan produk strategi yang didalamnya mencakup produk development misalnya dengan menciptakan menu baru yang bisa menghasilkan profit atau menjaga harga pokok penjualan secara ketat. 

Di samping itu, pemilik usaha juga harus mengetahui dan mengatur keuangan perusahaan dengan memahami manajemen cash flow. Sebab, bagaimanapun salah satu kunci penting yang membuat bisnis bertahan dan terus berkembang adalah dengan menjaga arus keluar masuk uang.

“Setelah itu, lakukan review terhadap semua biaya yang sudah dikeluarkan, mana saja yang harus dipertahankan, mana saja yang perlu diefisienkan, mana saja yang perlu dikurangi atau ditingkatkan targetnya adalah profit bisa naik agar pada 2023, bisnis yang dijalankan bukan hanya bertahan tapi juga bisa menyerang,” terangnya.

Agar pendapatan bisa lebih meningkat, maka pelaku usaha perlu melakukan berbagai inovasi misalnya dengan membuka pangsa pasar yang baru. Dia mencontohkan bisnis kuliner yang dulunya hanya mengandalkan penjualan secara online atau dine in, kemudian dikembangkan dengan membuka pasar catering 

“Alih-alih bertahan dengan orang yang datang dan delivery melalui online platform, kita juga bisa membuka pasar baru misalnya dengan menyasar pasar berlangganan catering atau pembelian dalam jumlah besar di corporate. Dan ini harus kita mulai dari sekarang,” ujarnya.

Inovasi lain yang bisa dilakukan adalah dengan membuat produk yang harganya lebih terjangkau. Misalnya dengan menciptakan menu paket, mengurangi porsi tanpa mengurangi kualitas, atau menghadirkan menu dengan ukuran yang lebih kecil.

Riset Pasar

Senada disampaikan oleh Dr. Timothy Astandu, Co-Founder dan CEO Populix mengatakan bahwa resesi seharusnya tidak menjadi penghalang bisnis untuk terus berinovasi. 

Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat yang menjadi lebih selektif terhadap pengeluaran, pelaku bisnis perlu mengeksplorasi peluang inovasi dan terus beradaptasi dengan kebutuhan dan minat masyarakat melalui riset pasar.

Riset pasar akan membantu memberikan insights bagi bisnis terkait produk dan tren yang tengah berkembang di tengah masyarakat, ketertarikan calon pelanggan dengan produk yang akan diluncurkan, hingga mengetahui harga yang rela mereka keluarkan untuk membeli produk tersebut.

Selain melakukan riset pasar, pelaku bisnis juga perlu terus mengevaluasi performa setiap produk yang dimiliki dan menentukan produk-produk apa yang paling menguntungkan bisnis, maupun merugikan bisnis.

Dengan demikian, di tengah perlambatan daya beli konsumen, pelaku bisnis dapat lebih berfokus memperkuat produk-produk unggulannya serta memberhentikan pasokan produk yang kurang baik terlebih dahulu, guna mengurangi biaya produksi.

Tak hanya itu, pelaku bisnis juga harus lebih sigap dan cermat dalam melakukan penyesuaian harga dengan kondisi pasar. Perhatikan juga perubahan harga bahan baku, biaya produksi, serta harga jual yang dipatok oleh kompetitor secara berkala, agar bisnis bisa terus kompetitif di pasar.

Salah satu biaya terbesar pada operasional bisnis adalah anggaran pemasaran. Untuk itu, pelaku bisnis perlu melakukan efisiensi dengan memastikan alokasi anggaran pemasaran mereka tepat sasaran.

Banyak pelaku bisnis yang belakangan ni mengalihkan strategi pemasaran mereka ke ranah digital karena jangkauannya yang luas sehingga memungkinkan kreativitas lebih besar dengan biaya yang lebih terjangkau.

Salah satu strategi yang bisa dipilih adalah promosi melalui media sosial. Strategi ini merupakan opsi yang tepat diaplikasikan apabila target konsumen bisnisnya menyasar milenial dan Gen Z.

Survei yang dilakukan oleh IDN Research Institute bersama Populix baru-baru ini memperlihatkan bahwa Facebook, YouTube, dan Instagram merupakan tiga platform media sosial yang banyak digunakan oleh kalangan milenial. Di sisi lain, Instagram, YouTube, dan TikTok menjadi platform yang diminati kalangan Gen Z saat ini.

Popularitas ketiga platform tersebut juga semakin mencuat karena ketertarikan Gen Z terhadap konten berbasis video dan live streaming. Selain itu, untuk menjangkau Gen Z, pelaku bisnis juga dapat mencoba kerja sama dengan influencer, content creator, atau Key Opinion Leader (KOL).

Hasil survei Indonesia Gen Z Report 2022 memperlihatkan bahwa selain kualitas produk, Gen Z di Indonesia memiliki tingkat kepercayaan tinggi pada brand-brand yang memiliki hubungan dekat dengan influencers, baik dalam hal kepemilikan brand maupun kerja sama dengan brand tertentu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm Resesi resesi ekonomi tips bisnis tips bisnis online
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top