Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kisah Jonathan Sudharta, Pendiri Halodoc yang Pernah jadi Sales Obat

Kenalan dengan pendiri Halodoc Jonathan Sudharta yang pernah jaadi sales obat.
Jonathan Sudharta pendiri Halodoc./twitter
Jonathan Sudharta pendiri Halodoc./twitter

Bisnis.com, JAKARTA -Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia mengirimkan rekomendasi kepada Halodoc untuk mencabut daftar obat-obatan keras dalam daftar jualannya.

Obat-obatan itu, salah satunya pseudoephedrine yang termasuk golongan prekursor bahan baku yang dilarang dijual bebas oleh Pemerintah.

Berdasarkan laman BPOM, prekursor adalah bahan kimia yang biasa digunakan untuk memproduksi Narkotika dan Psikotropika (napza) atau obat-obatan terlarang.

Karena hal itu, nama pendiri Halodoc Jonathan Sudharta kini menjadi perbincangan di media sosial.

Jonathan sendiri merupakan anak dari Jimmy Sudharta, pemilik Mensa Group.

Perusahaan yang didirikan pada April 1975 ini memulai bisnis mulai dari memasok bahan baku untuk industri farmasi hingga terus merambah ke  industri kosmetik, makanan dan pakan di seluruh Indonesia.

Lantas, seperti apa sosok dari Jonathan Sudharta ini? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Jonathan Sudharta lahir di Jakarta pada 1981. Dirinya bercerita, sejak kecil sang Ayah sudah mendidiknya sebagai seorang businessman, sehingga tak heran jika dirinya diarahkan untuk bisa melanjutkan studi dengan jurusan Marketing dan e-Commerce di Curtin University, Australia. 

Sebelum sukses membangun Halodoc, Jonathan ternyata memiliki ketertarikan di dunia olahraga. Bahkan, dia adalah seorang atlet hoki es Indonesia dan pernah menjadi kapten timnas hoki es Indonesia dan klub hoki es Batavia Demons. 

“Jadi waktu itu kami mewakili Indonesia ke pentas Asian Winter Games 2017 di Sapporo, Jepang,” ungkapnya dilansir dari salah satu episode Youtube ‘Kisah Sukses Jonathan Sudharta Bersama Halodoc’, Rabu (15/2/2023). 

Perjalanan Karier Jonathan Sudharta

Jonathan sempat berkarier selama 13 tahun dalam mengurus perusahaan keluarga. 

Ketika dirinya kembali ke Tanah Air pada 2003, dia bertekad untuk memulai karier dari nol dengan melepaskan hak istimewanya sebagai anak dari pemilik Mensa Group dengan cara mengganti namanya agar tidak ada yang mengenali dirinya.

“Alasan saya pernah mengganti identitas itu supaya bisa belajar lebih banyak dan lebih leluasa serta dekat dengan sales lain. Awal karier sebagai medical representative, yaitu kerjaannya menawarkan dokter untuk menggunakan resep obat yang kita bawa ini bisa disebut sales ya,” ungkapnya dikutip dari ‘Jonathan Sudharta: Small Iteration, Continuous Development, Solve Problems’.

Hingga akhirnya, berbekal pengalaman terjun langsung di lapangan dan kepiawaiannya dalam melihat peluang, membuat Jonathan dipercaya menempati berbagai posisi manajerial. 

“Saya ingin bekerja secara profesional. Sehingga, pengangkatan saya pun secara bertahap, mulai dari supervisior, manajer, business development manajer hingga senior leader,” katanya. 

Kisah Mengembangkan Bisnis Halodoc

Pengalaman ini yang membuat Jonathan menemukan passion dalam dunia medis dan bertekad untuk membantu melayani kesehatan banyak orang.

“Saya pernah ada pengalaman nunggu dokter sampai jam 2 pagi. Lalu, kalau itu dokter yang ramai, bisa sampai jam 4 pagi. Di sana saya berpikir, waktu yang kita habiskan untuk menunggu sangat banyak dan dokter jumlahnya terbatas,” ceritanya. 

Ketimpangan akses layanan kesehatan di Indonesia antara dokter dan populasi orang. Ditambah lagi sulitnya orang yang berada di luar kota besar mendapatkan akses terhadap dokter spesialis, membuat Jonathan memutuskan untuk merealisasikan inovasi teknologi berdasarkan permasalahan yang kerap dia temui. 

Pada 2015, berbekal hasil diskusinya bersama kedua temannya pada masa itu, Andre Soelistyo yang kini tengah menjadi CEO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Nadiem Makarim yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia, dia pun memberanikan diri membangun startup yang memiliki visi besar dan berbagai rencana untuk inovasi yang mengubah ekosistem dunia kesehatan. 

Alhasil, Jonathan mendirikan Halodoc sebagai aplikasi yang bisa menghubungkan pasien dengan para dokter ahli tanpa harus bertemu di rumah sakit atau klinik pada 2016. 

Suksesnya Halodoc tentu tidak secara instan didapatkan. Jatuh bangun dalam merintis Halodoc menjadi pengalaman tersendiri bagi Jonathan.

“Di awal tahun, banyak sekali yang meremehkan, katanya ini tidak akan berhasil dan dibilang hanya akan memperumit regulasi,” tuturnya. 

Lalu, di tahun 2017, Halodoc pernah melakukan total perubahan 200 kali. 

“Kalau ada 200 perubahan, artinya ada 200 yang tidak berhasil kan? Nah biggest mistake saya waktu itu, dengan segala ambisi saya, membuat tim spend time around enam bulan, launching besar-besaran, tapi ternyata hanya dua orang yang pakai itu aplikasi. Akhirnya, itu kadi pelajaran buat saya sih, untuk tidak fall in love with solution, but fall in love with problem,” katanya. 

Kini, dengan segala penyesuaian, Halodoc telah membuka layanan aplikasi kesehatan, dan obat online di 50 kota di Indonesia. Bahkan, startup yang fokus dalam memberikan akses layanan kesehatan asal Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai salah satu dari 100 perusahaan layanan kesehatan digital top dunia, yang dirilis oleh The Healthcare Technology Report. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper