Edy Ongkowijaya, Mengibarkan Kuliner Nusantara di Mancanegara

Siapa sangka sebelum D\'Penyetz marak membuka cabangnya di Indonesia, restoran ini memulai karir di Singapura. Setiap menunya berasal dari racikan tangan anak bangsa bernama Edy Ongkowijaya.
Ipak Ayu H Nurcaya | 17 November 2018 13:09 WIB
Edy Ongkowijaya, pendiri dan pemilik D'Penyetz. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Siapa sangka sebelum D'Penyetz marak membuka cabangnya di Indonesia, restoran ini memulai karir di Singapura. Setiap menunya berasal dari racikan tangan anak bangsa bernama Edy Ongkowijaya.

Perjalanan bisnis pria kelahiran Surabaya pada 1977 itu dipenuhi jatuh bangun seperti banyak pengusaha sukses lainnya.

Sejak usia 18 tahun, tepatnya pada 1993, Edy memutuskan merantau di Singapura. Awalnya, dia melanjutkan sekolah ke salah  satu Secondary School di sana.

Namun, hanya setahun kemudian usaha otomotif milik ayahnya bangkrut. Edy sempat diminta kembali ke Indonesia oleh orang tuanya yang sudah tidak bisa mengirim biaya lagi.

Edy muda pun memutuskan menolak perintah orang tuanya tersebut, dia pun bertekad untuk bertahan hidup di Singapura secara mandiri. Hal itu menjadi titik pembalikan kondisi anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Status sebagai kalangan anak orang kaya pun memudar. Edy harus memulai bergelut agar mampu menghidupi dirinya dan bergantian mengirim uang belanja ke orang tuanya dan membantu adik perempuannya bersekolah di Jakarta.

Edy memeriksa menu di salah satu gerai D'Penyetz./Istimewa

"Apapun pekerjaan halal saya lakukan agar bisa tetap menuntut ilmu di Negeri Singa, hingga pernah menggeluti berbagai pekerjaan yakni tukang cuci piring dan pelayan di restoran dan hotel. Dalam pekan yang sama, saya juga menjadi guru les privat dan melatih bulu tangkis untuk anak SD," katanya, belum lama ini.

Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal di sana, dia bahkan pernah beberapa kali terpaksa menumpang di rumah temannya. Tak hanya itu, Edy juga pernah mengalami susahnya hidup di Singapura dengan hanya mengandalkan uang 50 sen, sekitar Rp5.000 jika dihitung dengan kurs sekarang.

Belum lagi untuk mengisi perut setelah selesai kuliah, dia harus mengandalkan kemurahan hati pemilik kantin di sekolah untuk membungkus sisa lauk yang akan dibuang. Bahkan, Edy pernah makan mie instan dan roti tawar selama hampir satu bulan lamanya.

Perasaan patah semangat pun pernah dialaminya. Apalagi, setelah mendapat cacian dari orang tua kekasih hatinya kala itu.

"Waktu masih susah, saya pernah pacaran dengan anak berada. Ibunya telepon dan mengucapkan satu kalimat yang enggak akan pernah bisa saya lupa. Katanya, ‘Kamu mau kasih makan apa anak saya? Mulai sekarang kamu tidak boleh berhubungan dengan anak saya lagi!” ungkapnya.

Namun, bentuk penghinaan itu justru dijadikan sebuah pembelajaran. Edy malah sengaja menempel foto ibunya di atas tempat tidurnya.

Setiap kali membuka mata, ketika merasa sangat capek, atau ketika serasa mau menyerah, dia akan melihat foto tersebut sebagai pemicu semangat.

Ada satu prinsip hidup yang dipegang teguh Edy saat itu yang dipesankan oleh ayahnya, yakni apa yang direndahkan oleh manusia, suatu hari akan ditinggikan oleh Tuhan. Satu poin penting yang bisa dipetik, meski dalam keadaan sederhana dirinya tidak merasa gengsi.

Pada 2000, Edy berhasil lulus kuliah dari Nanyang Polytechnic Jurusan Marketing. Dia sempat bekerja di sebuah perusahaan logistik asal Jepang.

Meski gajinya terbilang pas-pasan, dia bisa membawa adik perempuannya ke Singapura untuk melanjutkan kuliah. Namun, Edy hanya bertahan tiga tahun di perusahaan tersebut.

“Saya dari dulu kerja banyak geraknya. Disuruh diam duduk di depan komputer enggak betah," ujarnya.

Pada 2004, Edy tertarik untuk membuka bisnis waralaba Es Teler 77 di Far East Plaza, Orchard Road. Dirinya dipinjami modal untuk membeli waralaba ini dan berjalan dengan sukses.

Tetapi, pada 2006 dirinya melepas bisnis Es Teler 77 dan memulai ayam penyet dengan salah satu brand waralaba di Lucky Plaza, Orchard Road. Berkat usaha gigihnya dan koneksi dengan media Singapura, dalam waktu singkat ayam penyet menjadi sensasi dan semakin dikenal masyarakat Singapura.

Edy memberikan pengarahan kepada para karyawannya./Istimewa

Pelanggan yang ingin makan di restorannya sampai harus rela antre. Hal ini pun jadi sensasi baru bagi usahanya.

Karena kesuksesan usahanya ini juga, Nanyang Polytechnic dan beberapa asosiasi lainnya di Singapura sering mengundangnya untuk berbagi ilmu mengenai entrepreunership.

Sayangnya, gelombang hidup kembali lagi melanda ketika kemitraan berujung perpisahan. Edy merasa dirugikan oleh temannya sendiri lantaran selama dua tahun tidak ada laporan pembukuan dan pembagian dividen.

Akhirnya, Edy pun memutuskan untuk membuka restoran sendiri pada 2009 dengan nama Dapur Penyet, yang awalnya hanya berawal dari gerai foodcourt yang ada di Jurong Point Mall.

Pada tahun pertamanya, dia ikut melakukan hampir semua tugas walaupun telah memiliki karyawan. Selain mengurus urusan administrasi, dia juga bertugas di dapur, di konter, bersih-bersih, dan membuang sampah. Dia selalu menekankan kepada karyawannya, “you don’t work for me, but you work with me” sehingga banyak pegawai yang setia.

Usahanya pun terus berkembang dan kini dikenal dengan D'Penyetz, yang gerainya sudah ada di Singapura, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Myanmar. Tahun depan, Edy akan melebarkan sayap ke negara keenam yaitu Australia.

Saat ini, D'Penyetz sudah memiliki 48 gerai di Indonesia dan 28 gerai di luar negeri.

Tag : entrepreneurship, kuliner
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top