Bisnis Kulit Buaya Mengincar Pembeli Mancanegara

Tingginya harga jual produk Argoboyo tersebut membuat Ridho mampu meraup untung kurang lebih Rp150 juta per bulan.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  08:46 WIB
Bisnis Kulit Buaya Mengincar Pembeli Mancanegara
Repro Instagram argoboyo

Bisnis.com, JAKARTA – Produk kulit buaya dengan merek Argoboyo pertama kali didirikan oleh orang tua Ridho Magatama Pangestu pada Desember 2000.

Kala itu, Ridho menuturkan, inspirasi usaha kulit buaya muncul setelah orang tuanya mengikuti pelatihan pembuatan sepatu. Apalagi, sejak usia muda ayah Ridho sudah tinggal di Papua. Dari situlah, untuk pertama kalinya memproduksi sepatu dari bahan kulit buaya.

Selain itu, dipilihnya kulit buaya juga dikarenakan bahannya yang awet dan perawatannya yang mudah. Pelanggan hanya perlu mengoleskan baby oil untuk menjaga kilauan dari kulit tersebut.

Seiring berjalannya waktu, usaha itu pun mulai membuahkan hasil. Orang tua Ridho kemudian melebarkan sayapnya dengan memproduksi tas kulit buaya pada 2002. Selama 13 tahun Argoboyo berkembang, kini usaha kerajinan kulit buaya itu pun diambil alih oleh Ridho.

Estafet bisnis Argoboyo telah berhasil memproduksi berbagai macam perlengkapan yang terbuat dari kulit buaya. Ridho mengatakan seluruh proses pembuatannya dilakukan di Timika Papua.

Tentu saja, seluruh operasional ini legal karena Argoboyo telah mengantongi izin dari pihak berwenang. Apalagi, bahan baku yang diperoleh berasal dari penangkaran buaya yang dikelola oleh Balai Konversi Sumber Daya Alam atau BKSDA.

Selama mengelola Argoboyo, dia memasarkan produk-produknya melalui toko fisik dan pameran UKM. Ridho mengaku bahwa dia sangat rajin mengikuti berbagai macam pameran UKM baik yang diselenggarakan di Indonesia maupun di luar negeri, China, misalnya.

“Saya sering ikut pameran sejak 2010 atau 2011-an, di Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM serta Bekraf,” katanya.

Dari pameran itu, produk-produk Argoboyo mendapat perhatian dari berbagai macam kalangan. Sebagian besar konsumennya, berasal dari kota-kota besar di Indonesia seperti Makassar, Medan, Samarinda, Lombok, dan Jakarta.

Selain itu, ada juga pelanggan dari luar negeri seperti di China dan Korea, meski belum mendapatkan permintaan ekspor karena terkendala perizinan. Apalagi, untuk negara-negara Eropa, sangat sulit untuk memperoleh izin ekspor khususnya produk berbahan kulit binatang.

“Biasanya pelanggan yang dari China dan Korea itu ambil barang dari toko, lalu mereka jual di negaranya.”

Soal harga, dia menjual produknya mulai dari Rp300.000 tergantung pada variasi dan jenisnya. Untuk dompet pria misalnya, Ridho menjualnya dengan harga Rp300.000 sampai Rp500.000. Sedangkan dompet wanita dibanderol senilai Rp500.000 hingga Rp1,2 juta.

Sementara untuk produk tas, dia menjualnya mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta tergantung modelnya. “Kalau koper, yang besar itu Rp6,5 juta dan yang kecil ukurannya Rp5 juta. Kalau sepatu itu saya jual Rp2,5 sampai Rp3,5 juta.”

Paling mahal di antara produk Argoboyo adalah tas golf. Untuk tas golf dia menjualnya mulai dari Rp25 juta. Tingginya harga jual produk Argoboyo tersebut membuat Ridho mampu meraup untung kurang lebih Rp150 juta per bulan.

Laba tersebut hanya diperoleh jika dia mengikuti event pameran UKM satu bulan penuh. “Itu belum keuntungan yang di toko,” katanya. Keuntungan yang diperoleh dari toko minimal senilai Rp5 juta sampai Rp10 juta per hari jika sepi. Namun, dia tak menampik jika toko ramai, dia berhasil meraup untung hingga Rp50 juta per hari.

Ke depan, dia ingin fokus pada pemasaran via online. Selain agar mudah dikenal, penjualan melalui online juga memudahkannya agar tidak kalah dengan merek kerajinan buaya yang lain.

Dari Papua

Kerajinan kulit buaya sudah lama digunakan di industri fesyen dunia. Keunggulan kulitnya yang lebih keras dan kuat menjadikan material kulit buaya banyak dicari untuk dijadikan beragam benda seperti tas, ikat pinggang, sepatu, atau dompet.

Di Indonesia, rasanya harus menyebut Papua sebagai pulau dengan industri kerajinan dari kulit buaya yang ramai. Kota Merauke dan sekitarnya adalah salah satu sentra perajin kulit dari hewan reptil pemangsa daging ini.

Setidaknya, ada dua jenis buaya yang kulitnya bisa digunakan sebagai material untuk benda kerajinan yaitu buaya air tawar dan buaya muara (air asin). Perbedaan di antara keduanya yakni buaya air tawar, motifnya kurang menonjol dan ukurannya lebih pendek.

Sementara itu, buaya muara kulitnya punya struktur unik dan tegas. Jika diaplikasikan sebagai bahan dasar pembuatan tas maupun sepatu, hasilnya akan bagus. Jika dibandingkan dengan jenis kulit binatang lain, misalnya dengan kulit sapi atau ular, produk kulit buaya memiliki keunikan.

Tekstur kulit buaya tampak timbul yang membuatnya terkesan gagah, mewah, dan eksotis. Terlebih lagi, setiap produk pun bisa berbeda tekstur. Produk yang terbuat dari kulit bagian badan cenderung tak terlalu kasar dan timbul. Sementara itu, produk yang dibuat dari kulit bagian punggung lebih kasar, keras, dan coraknya terbentuk simetris secara alami.

Di samping itu, produk dengan kulit buaya juga cenderung lebih awet dibandingkan kulit binatang lainnya. Biasanya, tas, sepatu hingga dompet dari kulit reptil dua alam itu bisa awet hingga bertahun-tahun. Hanya saja, jika bicara soal kekurangan, produk kulit buaya memang jauh lebih mahal dibandingkan kulit hewan lainnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Bisnis Indonesia Weekend edisi 5 Mei 2019

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
entrepreneurship, peluang usaha

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top