Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tips Mengelola Relawan untuk Kembangkan Sociopreneurship

Disrupsi teknologi yang dipercepat dengan disrupsi akibat pandemic covid-19 bisa menjadi peluang bagi para pelaku sociopreneur untuk berkembang dan membesarkan gerakan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 16 April 2021  |  20:39 WIB
Di Akademi Berbagi, hal ini ditempuh dengan berbagai program pembekalan, workshop dan mentoring serta gathering.  - Akademi berbagi
Di Akademi Berbagi, hal ini ditempuh dengan berbagai program pembekalan, workshop dan mentoring serta gathering. - Akademi berbagi

Bisnis.com, JAKARTA - Disrupsi teknologi yang dipercepat dengan disrupsi akibat pandemic covid-19 bisa menjadi peluang bagi para pelaku sociopreneur untuk berkembang dan membesarkan gerakan.

Syaratnya, komitmen dan konsistensi. Tanpa kedua prinsip tersebut, mustahil gerakan nirlaba akan berkelanjutan dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.

Ainun Chomsun, pendiri gerakan sosial Akademi Berbagi, mengatakan spirit sociopreneur ini bukan lagi hal baru di kalangan masyarakat Indonesia. Bangsa ini, menurutnya, dibangun dengan semangat gotong royong dan spirit saling membantu.

Fenomena media sosial diakuinya menjadi pupuk subur tumbuh dan berkembangnya sociopreneur di seluruh dunia, termasuk Indonesia. "Namun yang memprihatinkan, dari ribuan gerakan sosial yang tumbuh di tanah air, banyak yang tidak mampu bertahan lama," ujarnya beberapa waktu lalu.

Dia mengamati perkembangan tersebut sejak mulai menginisiasi gerakan “Akademi Berbagi” yang diawali melalui percakapan di Twitter pada 2010. Menurutnya, motivasi generasi muda untuk terjun langsung pada satu gerakan sosial adalah awal yang baik.

Namun yang paling penting adalah bagaimana membangun sistem yang benar agar sociopreneur yang dirintis dapat berkembang dan berdampak signifikan.

Seperti yang diketahui, indikator keberhasilan dari sebuah gerakan sosial adalah perubahan sosial.

Untuk memperoleh hasil yang nyata, lanjutnya, para pelaku sociopreneur harus bisa memastikan siapa yang akan menjadi target dan seperti apa dampak nyata yang dihasilkan.

“Kalau ada yang nasibnya berubah, itu dampak nyata yang terlihat dan itu jauh lebih penting daripada popularitas dan publikasi yang memberikan ilusi seolah-olah kita sudah besar,” tambahnya lagi.

Perkara biaya operasional yang sering menjadi problem keberlangsungan sebuah gerakan sosial, menurut Ainun mestinya tidak menjadi masalah karena Akademi Berbagi pun terbentuk nyaris tanpa modal.

Ainun mengakui, mengelola relawan sebagai motor gerakan sosial agar mampu berkembang menjadi agen perubahan bukan perkara mudah.

Bagaimana pun juga, para relawan itu tidak mendapatkan imbalan dalam aktivitas mereka. Oleh karena itu, untuk mempertahankan komitmen dan konsistensi para relawan, menurut Ainun kuncinya adalah bagaimana agar mereka merasa mendapatkan manfaat dari kerelawanann mereka.

Di Akademi Berbagi, hal ini ditempuh dengan berbagai program pembekalan, workshop dan mentoring serta gathering. "Pendekatan kepada relawan harus benar-benar mempertimbangkan sentuhan kemanusiaan," kata Ainun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

entrepreneur sociopreneur
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top