Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Cerita Perjalanan Pijak Bumi, Berawal Dari Kehilangan Sepatu hingga Manfaatkan Limbah

Pijak Bumi berencana untuk mengumpulkan dan mendonasikan sepatu Pijak Bumi yang tak lagi digunakan, kepada yang membutuhkan.
Sepatu Pijak Bumi/Instagram
Sepatu Pijak Bumi/Instagram

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa sangka, Pijak Bumi, perusahaan sepatu asal Bandung, Jawa Barat bermula dari sebuah insiden kehilangan sepatu di kosan sang founder dan desainer, Rowland Alfales.

Sepuluh tahun lalu, Fales kehilangan sepatu di kosannya saat hendak berangkat kuliah. Singkat cerita, dia kemudian mencari sepatu di factory outlet. Sayangnya, harganya tak ramah dikantong mahasiswa.

Bermodalkan sekitar Rp10 juta-Rp15 juta dari kantong sendiri, Fales kemudian membuat sendiri brand sepatu miliknya dan berlanjut hingga sekarang, meski sempat mengalami jatuh bangun.

Di 2016, Pijak Bumi resmi berdiri. Nama Pijak Bumi sendiri selaras dengan visi mereka, untuk menjadikan produk Indonesia eksis di luar negeri.

“Salah dua mimpinya, nama Pijak bumi, sepatunya diharapkan dapat memijak bumi, artinya distribusikan ke mana-mana,” kata Fales dalam insightfull session pada Pertamina SMEXPO 2023 di Gandaria City Mall, Selasa (31/10/2023).

Konsep yang diusung Pijak Bumi cukup unik yakni mengedepankan model bisnis sirkular. Dengan model bisnis ini, sepatu Pijak Bumi yang sudah dipakai maupun rusak masih menjadi tanggung jawab perusahaan.  

“Jadi, kalau sepatu Pijak Bumi kalian sudah rusak,  silahkan kirim balik ke kita, kita akan bantu recylce, kita akan bantu repair,” ujarnya.

Ke depannya, Pijak Bumi berencana untuk mengumpulkan dan mendonasikan sepatu Pijak Bumi yang tak lagi digunakan, kepada yang membutuhkan.

Di sisi lain, material yang digunakan untuk membuat sepatu berasal dari tumbuhan dan material recycle. Dengan begitu, Pijak Bumi tak hanya datang dengan material ramah lingkungan, namun hadir mulai dari hulu ke hilir.

Inilah yang membuat Pijak Bumi berbeda dengan kompetitornya. 

Tujuh tahun sejak didirikan, diakuinya terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi dari bisnis sirkular ini. Diantaranya, secara suplai chain, belum banyak pemainnya dan minimum order quantity (MOQ). 

Dia menuturkan, untuk memproses satu kali kain recycle diperlukan sebanyak 10 ton kain sekali masuk. Hal itu kemudian membatasi pergerakan mereka.

“Hal-hal itu yang akhirnya membatasi pergerakan kita yang meet sama MOQ. Itu challenge di kita,” tuturnya.

Kedepannya, Pijak Bumi ingin memperluas bisnisnya di Jepang. Selain itu, ada rencana untuk melebarkan sayap ke negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia. AS juga masuk ke dalam daftar targetnya, mengingat AS merupakan market sepatu terbesar di dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper