Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Strategi Pengusaha Skincare Asal Malang Berbisnis Laring dan During

Berkat kegigihan dan strategi bisnis yang baik, pemilik usaha Mitufaya ini mampu mencatat 5.000 hingga 10.000 transaksi setiap bulannya.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 09 Oktober 2021  |  19:21 WIB
Pengusaha mengatur strategi bisnis dan kian gencar melakukan  penjualan melalui ecommerce dan daring untuk meningkatkan pendapatan. / istimewa
Pengusaha mengatur strategi bisnis dan kian gencar melakukan penjualan melalui ecommerce dan daring untuk meningkatkan pendapatan. / istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi covid-19 memang telah memberi dampak yang signifikan bagi sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah. Meski demikian, tak sedikit pula yang mampu survive dan justru makin berkembang di tengah pukulan pandemi yang telah melanda sejak 2020 lalu.

Salah satunya ialah Mila pemilik usaha makeup dan skincare asal Malang. Bersama sang suami, Taufiq, Mila terus memutar otak untuk bisa bertahan dengan menyesuaikan strategi dan memahami perubahan tren pasar.

Keduanya bahkan berani mengambil keputusan dengan memperluas skala usaha dari yang semula hanya berjualan secara online, mulai membuka toko offline. Berkat kegigihan dan kemampuannya dalam beradaptasi, pemilik usaha Mitufaya ini mampu mencatat 5.000 hingga 10.000 transaksi setiap bulannya.

Perjalanan bisnis Mitufaya sendiri bermula pada akhir 2018. Ketika itu, ayah dari Taufiq menderita penyakit sehingga berdampak pada keuangan keluarga. Kondisi ini kemudian mendorong Taufiq dan pasangannya Mila yang ketika itu masih duduk di bangku kuliah untuk memulai bisnis makeup berbasis online di bawah bendera usaha Mitufaya.

Mereka mengambil segmen pasar para mahasiswa dan ternyata sambutannya sangat baik hingga keduanya pun berniat memperluas pangsa pasar dengan menggandeng sejumlah influencer di media sosial pada awal 2020 lalu.

Namun, belum sempat ekspansi, pandemi telah lebih dahulu memukul bisnis mereka. Di tengah keadaan tersebut, praktis mereka hampir tidak memiliki pemasukan sama sekali, terutama pada awal pandemi.

“Ketika pandemi, kalau dibilang terpuruk memang terpuruk banget. Usaha online kami hanya cukup menutup keperluan operasional, termasuk listrik rumah, internet, dan gaji karyawan, sedangkan untuk konsumsi pribadi justru tidak ada,” ujar Mila.

Meski demikian, keduanya tak lantas berputus asa. Dengan memegang prinsip untuk tidak berhenti sesulit apapun, bahkan seterpuruk apapun bisnis harus tetap jalan. Hingga akhirnya pada November 2020, keduanya memutuskan untuk membuka toko offline dan beauty studio pertamanya dengan modal dari dana tabungan.

Walaupun sebagian pelaku usaha menutup toko offline, tetapi bagi Mila dan Taufiq, kehadiran toko fisik penting untuk memperkuat presensi bisnisnya serta meningkatkan kepercayaan pelanggan dan distributor.

“Awalnya hampir tidak ada satupun pelanggan yang mengunjungi toko kami. Namun, saya berinisiatif menyesuaikan strategi untuk menjawab kebutuhan pasar dan mendorong performa bisnis di tengah pandemi,” terangnya.

Salah strategi bisnis yang dia terapkan ialah mengikuti pergeseran tren make up ke industri skincare. Ternyata di masa pandemi ini, masyarakat banyak yang menggunakan skincare untuk merawat wajah sehingga Mitufaya pun mulai fokus merambah produk skincare dari yang awalnya lebih banyak menjual produk makeup dan kecantikan.

“Di masa pandemi ini strategi kami lebih bergeser mengikuti tren pasar dengan memperluas fokus ke bisnis skincare dari makeup, padahal awalnya skincare bukanlah keahlian saya tetapi sebagai pelaku usaha kita juga harus adaptif dengan tren pasar,” ujar wanita lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Di samping itu, Mila juga melihat adanya pergeseran tren pembayaran ke arah digital. Melihat tren tersebut, Mitufaya mulai bergerak mengadopsi teknologi pembayaran digital dengan bergabung sebagai merchant salah satu aplikasi usaha Youtap sehingga bisa menerima beragam opsi pembayaran, mulai dari tunai, mobile banking, hingga QRIS.

Apalagi berdasarkan penelitian dari LD FEB UI, pemanfaatan platform digital selama masa pandemi meningkat pesat, termasuk layanan keuangan digital. Metode pembayaran elektronik bahkan menggantikan cash sebagai metode pembayaran utama.

Tak heran ketika pelaku usaha mulai memanfaatkan pembayaran secara digital, penjualannya pun ikut terdongkrak karena mayoritas masyarakat saat ini lebih memilih metode pembayaran secara nontunai.

“Opsi pembayaran yang lengkap ini telah menjadi daya tarik terrsendiri bagi pelanggan. Transaksi bisnis kami di Mitufaya saat ini didominasi oleh pembayaran digital. Kami mencatat paling tidak 60% transaksi bisnis dilakukan secara digital,” ungkapnya.

Diakui olehnya saat Mitufaya hanya menerima pembayaran secara tunai, banyak pembeli yang kurang tertarik hingga kemudian memberi kritik dan saran agar memperluas metode pembayaran. Setelah memiliki kelengkapan opsi pembayaran, justru menjadi salah satu alasan pelanggan merekomendasikan Mitufaya ke teman-temannya yang lain.

Selain itu, pembayaran secara digital ini juga memudahkannya dalam mencatat transaksi penjualan, baik yang online maupun offline. Dengan pencatatan yang lebih rapi, Mila lebih mudah menganalisis produk yang paling diminati dan menentukan strategi bisnis serta persiapan stok berikutnya.

Berkat rangkaian strategi adaptifnya tersebut, toko offline Mitufaya mampu bangkit. Mila pun mengaku bahwa saat ini usahanya telah mencatat peningkatan omzet hingga 10 kali lipat jika dibandingkan dengan sebelum ia membuka toko offline.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

entrepreneur strategi bisnis Skincare
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top