Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Sate Kian Lezat, Omzet Tembus Rp60 Juta per Bulan

Selama pandemi, pelaku UMKM kuliner mengubah strategi berjualan dari offline menjadi online, untuk bertahan di tengah pandemi.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 26 Maret 2022  |  04:35 WIB
Sate ayam yang sedang dibakar di atas bara arang dan kayu. Penjualan sate ayam dan kambing Sowi mencapai Rp2,5 juta-Rp2,9 juta per hari - Istimewa
Sate ayam yang sedang dibakar di atas bara arang dan kayu. Penjualan sate ayam dan kambing Sowi mencapai Rp2,5 juta-Rp2,9 juta per hari - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis kuliner sate atau satai bumbu kacang adalah kudapan nusantara yang banyak dikenal dan disukai masyarakat dari segala kelompok usia.

Sate adalah makana yang terbuat dari daging yang dipotong kecil-kecil dan ditusuk menggunakan lidi atau bambu, kemudian dipanggang di atas bara api, sembari diolesi bumbu khas rempah-rempah nusantara.

Sate biasanya disajikan dengan bumbu kacang atau kecap manis. Kadang juga sate juga disajikan menggunakan potongan bawang merah dan mentimun. Orang Indonesia suka makan sate bersama dengan nasi putih panas, ketupat, atau lontong.

Melihat peluang bisnis sate, Sowi membuka kios sate ayam dan kambing pada 2016. Modal awal yang dimilikinya untuk membuka kios sangat terbatas, terdiri dari gerobak, alat panggang, daging dan biaya sewa kios.

Setelah setahun menjalani usaha sate, Sowi mendapatkan respon baik dari pembeli. Beruntung, dia langsung mendapatkan pelanggan tetap yang berada di sekitar kios. 

Untuk mengembangkan usaha, Sowi mencari cara agar bisa memiliki kios sendiri. Dia langsung mencari pinjaman melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Total pinjaman KUR BRI pada yang diperoleh pada 2017 mencapai Rp25 juta.

Modal tersebut digunakan untuk membeli lapak di daerah Sunter Hijau. Kini Sowi tidak perlu menyewa dan fokus pada penjualan dan konsisten menjaga rasa. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, dia mengakui bahwa terjadi penurunan penjualan pada saat PPKM.

Penjualan sate Sowi langsung turun hingga 40 persen selama pandemi. Lantas, dia memikirkan cara agar arang tetap menyala dan sate bisa terjual di tengah pandemi. Mau tak mau, pelaku UMKM harus beradaptasi dengan aplikasi online dan membuka toko online.

"Pas PPKM, penjualan sempat turun, jadi kami coba jual secara online melalui GoFood, Grabfood dan Shopee Food," ungkap Sowi, Jumat (25/4/2022).

Kesabaran dan ketekunannya sangat diuji di masa pandemi Covid-19. Sebab, terkadang pembeli online sering terburu-buru dalam memesan dan ingin cepat. Kendati begitu, Sowi belajar menghadapi tantangan tersebut.

Beruntung, orderan melalui aplikasi online terus berdatangan. Pesanan online selalu ada, bahkan dari pembeli yang  berjarak lebih 5 km juga ada. Sate Sowi mendapatkan rating yang baik dari pembeli. 

Seiring membaiknya daya beli masyarakat, penjualan sate mulai meningkat. Hampir setiap hari, Sowi bisa membukukan penjualan sate ayam dan kambing sekitar Rp2,5 juta-Rp2,9 juta. Bila dikalkulasi, kata Sowi, total penjualan sate berkisar Rp75 juta-Rp87 juta.

Setelah berjualan sate selama 6 tahun, Sowi kini juga bisa mengumpulkan uang untuk beli sawah. Dia percaya bahwa harga tanah, sehingga dia memutuskan untuk membeli sawah. Kini sawah hasil jualan sate diolah oleh keluarga.

sate sowi binaan umkm bri

Seorang pria sedang membeli sate ayam bumbu kacang di acara bazar klaster Mantriku BRI.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit usaha rakyat peluang usaha sate
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top