Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Sosok Founder Vitol Group Penyedia SPBU Vivo di Indonesia

Jaringan SPBU Vivo di Indonesia merupakan bagian dari Vitol Group yang berbasis di Swiss dan dibentuk oleh Henk Viëtor dan Jacques Detiger.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 05 September 2022  |  12:12 WIB
Ini Sosok Founder Vitol Group Penyedia SPBU Vivo di Indonesia
SPBU Vivo
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Baik di TikTok atau di media sosial lainnya seperti Instagram dan Facebook, sempat dibuat ramai oleh fakta bahwa SPBU Vivo menjual bahan bakar minyak (BBM) lebih murah dari Pertalite di Pertamina.

Banyak warganet yang kemudian menyarankan agar beralih untuk mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.

Vivo, merupakan salah satu layanan SPBU di Indonesia, dimana jaringan SPBU Vivo berada di bawah bendera PT Vivo Energy Indonesia, perusahaan sektor hilir minyak dan gas bumi, yang resmi beroperasi di Indonesia sejak tahun 2017 lalu.

Perusahaan penyalur BBM ini sejatinya masih terafiliasi dengan Vitol Group, raksasa minyak yang berbasis di Swiss.

Dikutip dari laman resminya, Vitol Group sudah memiliki jaringan di lebih dari 40 negara. Perusahaan multinasional ini memperdagangkan 367 juta ton minyak mentah dan produk turunannya.

Lantas siapa sosok di balik perusahaan penyalur BBM terbesar secara global ini? Simak ulasan Bisnis selengkapnya.

Awal Perkembangan Vitol

Mengutip dari Bloomberg, Vitol lahir di tengah ambisi yang lebih sederhana. Pada bulan Agustus 1966, dua orang Belanda, Henk Viëtor dan Jacques Detiger, menginvestasikan 10.000 gulden Belanda (sekitar US$2.800 pada saat itu) untuk memulai perusahaan Rotterdam dengan tujuan membeli dan menjual produk minyak olahan di Rhine.

Adapun, uang tersebut merupakan pinjaman dari ayah Vietor dan mereka setuju untuk membayar pinjaman dengan bunga tahunan sebesar 8 persen.

Rekening pertama perusahaan menunjukkan keuntungan kecil dan neraca hanya 200.000 gulden. Bisnis itu berkembang seiring persaingan. Tahun 1960-1970, produsen besar yang mengendalikan kontrak jangka mulai bangkrut. Dan pedagang kecil, termasuk Vitol pun mengambil kesempatan dengan mulai membeli dan menjual minyak di pasar spot yang baru lahir.

Founder dan CEO Vitol Group, Ian Roper Taylor

Awal perkembangan bisnis Vitol hingga menjadi perusahaan penyalur BBM terbesar secara global ini mulai terbentuk pada tahun 1990, ketika Detiger dan tujuh mitra lainnya menjual perusahaan tersebut seharga US$100 juta hingga US$200 juta (angka sebenarnya tidak diungkapkan) kepada sekelompok sekitar 40 karyawan, termasuk Ian Taylor.

Ian Roper Taylor yang lahir pada 7 Februari 1956 adalah seorang pengusaha dan dermawan Inggris yang merupakan Kepala dan CEO The Vitol Group.

Dikenal dengan kepribadian penuh karisma dan otak bisnis cemerlang, Taylor kerap membawa perusahaan asal Belanda tersebut mencapai kesepakatan menguntungkan dengan pemerintah, perusahaan minyak nasional, pabrik penyulingan dan produsen.

Taylor menjalani pendidikannya di King's School, Macclesfield hingga tahun 1974 dan kemudian melanjutkannya di Universitas Oxford hingga 1978 dengan jurusan Politik, Filsafat dan Ekonomi.

Melansir dari Bloomberg, sebelum bergabung dengan Vitol pada tahun 1985, Taylor lebih dulu memulai karir perdagangan minyaknya dengan Royal Dutch Shell pada tahun 1978.

Lalu, setelah dia memilih keluar dari Shell, dia pun sukses mengangkat citra Vitol Group dari pedagang bahan bakar kecil Belanda, menjadi perusahaan minyak independen terbesar di dunia. Saat itu, mereka sukses menghasilkan lebih dari 7 juta barel minyak mentah dan produk minyak sehari.

Filantropi Milik Ian Taylor

Taylor sangat mendukung pendidikan seni dan promosi atas inisiatif tertentu, sehingga Vitol mulai membuat hibah amal pada tahun 2002, dan pada tahun 2006 Yayasan Vitol didirikan, dengan Taylor sebagai ketua pertamanya.

Tujuannya agar anak-anak yang hidup dalam kekurangan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Karyawan Vitol didorong untuk mengidentifikasi proyek yang dapat memperoleh manfaat dari dukungan Yayasan. Sejak 2006 Yayasan Vitol telah mendanai lebih dari 2.000 proyek, dengan nilai gabungan sekitar £160 juta, di 124 negara di seluruh dunia.

Taylor juga pemegang saham mayoritas di Harris Tweed Hebrides, produsen utama kain Harris Tweed, di mana Taylor diketahui sempat menyelamatkan bisnis itu pada tahun 2005 dari krisis keuangan. Berkat kedermawanannya, pada tahun 2011, Taylor pun menerima penghargaan Outstanding Emergency Partner perdana dari Save the Children.

Dalam salah satu tindakan filantropi terakhirnya, Taylor pun menyumbangkan £4,5 juta melalui Taylor Family Foundation untuk membantu dana uji klinis skala besar di dunia yang terkenal Pusat Kanker Christie di Manchester.

Kehidupan pribadi

Taylor menikah dengan istrinya, Cristina (Tina) Alicia Hare, sejak tahun 1982. Saat ini, mereka telah dikarunia empat anak dua putra dan dua putri.

Taylor didiagnosis menderita kanker pada tahun 2014, dan akhirnya menjalani Proton Beam Therapy (PBT) di Swiss pada tahun 2018.

Taylor meninggal dunia di usia 64 tahun setelah bertarung dengan komplikasi penyakit kanker dan pneumonia pada Selasa (9/6/2020) waktu London.

Russel Hardy, Pengganti Mantan CEO Ian Taylor

Pada Maret 2018, Russell Hardy diangkat sebagai CEO perusahaan, menggantikan Ian Taylor. Mengutip dari Bisnis, Ian Taylor lengser dan meninggalkan jabatannya pada tahun 2018 akibat faktor kesehatan. 

Russell Hardy sendiri merupakan seorang pengusaha Inggris, dan kepala eksekutif (CEO) Vitol, perusahaan perdagangan minyak independen terbesar di dunia. Di masa muda, Hardy memiliki gelar master di bidang teknik dari Imperial College London.

Melansir dari Linkedin, sejak awal karir, dia memang telah bergabung di perusahaan dagang bahan bakar minyak, yakni BP. Namun, pada tahun 1993, Hardy meninggalkan BP dan bergabung dengan Vitol. Dia telah menjadi anggota komite eksekutifnya sejak 2007, dan CEO kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sejak 2017.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

spbu SPBU Vivo tokoh bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top