Bisnis.com, JAKARTA – Brand lokal di Indonesia, kini telah mengalami fenomena Local Brand Winter alias "musim dingin" imbas penurunan daya beli masyarakat.
Mengadaptasi istilah dari "Tech Winter" yang populer di industri teknologi, Hypefast menyebut "Local Brand Winter merupakan periode kecenderungan penurunan untuk industri brand lokal, yang ditandai dengan pertumbuhan yang melambat secara signifikan, investasi yang menurun bahkan hingga penutupan bisnis, setelah periode yang menunjukan sebaliknya.
Di akhir 2024, sejumlah brand-brand lokal yang digemari oleh konsumen terpaksa menghentikan kegiatan operasional karena besarnya kompetisi. Syca, Roona Beauty, dan Matoa adalah beberapa contoh brand lokal yang terpaksa gulung tikar.
CEO dan Founder dari Hypefast Achmad Alkatiri mengatakan, seperti fenomena Tech Winter yang dalam beberapa tahun silam melanda perusahaan-perusahaan berbasis teknologi, industri brand lokal juga tengah mengalami fenomena Local Brand Winter, terutama di bidang kecantikan.
"Kita melihat dalam waktu kurang dari satu tahun kebelakang, banyak brand lokal kecantikan yang memutuskan untuk berhenti kegiatan operasional. Faktor paling besar adalah kompetisi yang terlalu kuat dari brand luar terutama brand dari China,” ujar Achmad Alkatiri, CEO dan Founder dari Hypefast, dikutip Senin (24/3/2025).
Padahal, di periode sebelumnya terutama di 2021-2023, sinyal kuat positif dari berbagai brand lokal Indonesia dalam hal pendanaan dari investor ternama seperti brand kecantikan Rose All Day, Base, ESQA dan lainnya.
Baca Juga
Tidak hanya itu, sinyal positif juga datang dari dominasi pertumbuhan penjualan di platform e-commerce seperti Shopee dan Shop Tokopedia (sebelumnya TikTok Shop).
Berdasarkan data Hypefast sampai dengan 2024, kompetisi brand lokal meningkat drastis, terlebih dengan kehadiran brand-brand yang berasal dari China, yang memasuki pasar Indonesia dengan modal yang jauh lebih kuat dibandingkan brand lokal.
Hal ini ditunjukkan dari data internal Hypefast yang temukan bahwa brand-brand yang berasal dari China memiliki kemampuan untuk menghabiskan sekitar 30%-40% dari total omzet bisnis untuk kegiatan pemasaran.
Sementara itu, brand-brand lokal pada umumnya hanya memiliki kemampuan untuk melakukan 10% sehingga bisa mempertahankan keuntungan.
"Agresifnya pemasaran yang disesuaikan dengan konsumen Indonesia ini menyebabkan begitu banyak brand lokal Indonesia mengalami kesulitan dalam mengejar pertumbuhan yang sehat di negeri sendiri," paparnya.
Bahkan dari hasil survei Hypefast, 6 dari 10 orang Indonesia tidak berhasil membedakan brand yang berasal dari China dengan brand asli Indonesia.
Dengan fenomena ini, berbagai brand lokal yang memutuskan untuk tutup pada 2024. Hal ini pada akhirnya memberikan sinyal negatif terhadap investor yang pada periode sebelumnya memiliki minat berinvestasi di Tanah Air.
"Ini akan menurunkan jumlah investasi secara keseluruhan, padahal untuk bisa berkompetisi dengan brand dari china yang habis-habisan dalam pemasaran dan produk, dibutuhkan modal yang signifikan. Tanpa hal itu, bukan tidak mungkin, tapi brand lokal harus lebih kuat dalam menyusun strategi,” ungkap Achmad.
Dalam menghadapi kondisi ini, Hypefast memberikan beberapa langkah yang dapat diambil oleh brand lokal agar tetap relevan dan bertahan di pasar:
1. Fokus pada Cash Flow
Banyak pendiri brand lokal masih keliru dalam memahami perbedaan antara profit atau keuntungan dan cashflow atau arus kas. Memiliki bisnis yang menguntungkan tidak otomatis berarti memiliki arus kas yang sehat.
Profitabilitas hanya mencerminkan keuntungan di atas kertas, sementara cash flow adalah faktor utama yang menentukan apakah bisnis bisa bertahan dari hari ke hari.
Oleh karena itu, pemilik brand harus memastikan arus kas tetap positif dengan merencanakan pengeluaran secara detail, termasuk dalam hal pembelian inventaris dan pengurangan biaya yang tidak perlu.
Jika pemahaman tentang cashflow masih kurang, sangat disarankan untuk melibatkan ahli keuangan yang dapat membantu mengelola arus keuangan dengan lebih baik.
2. Cashflow Lebih Penting dari Pertumbuhan
Dalam menjalankan bisnis, terutama bagi brand lokal yang sedang berkembang, banyak pendiri yang terjebak dalam obsesi mengejar pertumbuhan (growth) tanpa mempertimbangkan kesehatan arus keuangan (cashflow). Padahal, tanpa cashflow yang stabil, pertumbuhan yang cepat justru bisa menjadi bumerang.
3. Ambil Pendanaan Jika Tersedia
Menunggu valuasi yang lebih tinggi untuk diputar lagi menjadi modal bisa menjadi keputusan yang berisiko, terutama di masa ketidakpastian seperti saat ini.
Hypefast mengingatkan bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bersikap idealis terhadap valuasi bisnis. Oleh karena itu, jika ada investor yang bersedia memberikan pendanaan, sebaiknya kesempatan ini dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan bisnis, memastikan arus kas tetap sehat, dan memberikan ruang bagi brand untuk menyusun strategi pertumbuhan yang lebih efektif.
"Hypefast mengimbau brand lokal bahwa tujuan utama sebaiknya bukan sekadar bertumbuh cepat, tetapi mencapai tahap self-sufficient, yakni kondisi di mana bisnis tidak hanya untung, tetapi juga memiliki cashflow positif," imbuh Achmad.
Dengan demikian, bisnis bisa bertahan dalam situasi ekonomi yang sulit dan tidak bergantung sepenuhnya pada investor atau pinjaman.
“Para founder brand lokal harus realistis dalam menghadapi situasi ini. Ini bukan saatnya untuk idealisme berlebihan, tetapi untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dengan strategi yang lebih matang,” tutupnya.