Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ingin Coba Bisnis Baru? Kini Industri Hadiah Sedang Naik Daun

Gaya hidup menengah ke atas dan pengaruh media sosial memiliki dampak besar pada kebiasaan memberikan hadiah.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 September 2020  |  21:29 WIB
Florist sedang merangkai bunga pesanan hotel-hotel dan rumah makan se Solo Raya yang akan digunakan untuk menginap tamu-tamu undangan pernikahan putri Jokowi di kawasan Pasar kembang, Solo, Senin (6/11). Dalam resepsi penikahan Kahiyang-Bobby pesanan rangkaian bunga naik sekitar 50% dengan harga Rp250.000,- hingga Rp500.000,- tergantung materi dan ukuran. JIBI/SOLOPOS -  Sunaryo Haryo Bayu
Florist sedang merangkai bunga pesanan hotel-hotel dan rumah makan se Solo Raya yang akan digunakan untuk menginap tamu-tamu undangan pernikahan putri Jokowi di kawasan Pasar kembang, Solo, Senin (6/11). Dalam resepsi penikahan Kahiyang-Bobby pesanan rangkaian bunga naik sekitar 50% dengan harga Rp250.000,- hingga Rp500.000,- tergantung materi dan ukuran. JIBI/SOLOPOS - Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, JAKARTA - Industri hadiah tidak diragukan lagi merupakan pasar yang sangat beragam dan karena kapasitasnya yang besar, tidak ada dua model bisnis yang sama.

Ada banyak pemain yang mendominasi pasar barang hadiah yang dipersonalisasi dan di sinilah persaingan berbasis waktu berperan.

Dilansir melalui Entrepreneur, Jumat (11/9/2020), selama lima tahun terakhir, industri ini telah melipatgandakan nilainya sebesar 25 persen dan penambahan kategori item hadiah baru yang terus berkembang.

Dengan meningkatnya pasar ritel global, pendapatan industri ini diperkirakan mencapai US$77 miliar pada akhir tahun 2022. Ini berarti bahwa industri hadiah, personal maupun korporasi, akan memegang hampir 80 persen pangsa pasar ritel.

Berkat keragaman hadiah dan momen untuk memberikan kado, daya beli kaum Milenial juga meningkat bahkan mengubah pola belanja konsumen.

Gaya hidup menengah ke atas dan pengaruh media sosial memiliki dampak besar pada kebiasaan memberikan hadiah yang tidak konvensional.

Di samping itu, pengaruh budaya Amerika seperti Hari Ayah, Hari Ibu dan Thanksgiving, telah memicu lonjakan pada permintaan hadiah yang dapat dipersonalisasi.

Dengan menawarkan hadiah yang tepat untuk orang yang dicintai, menciptakan dorongan besar pada layanan hadiah yang dipersonalisasi ini.

"Produk yang dibuat khusus sangat diminati dan sekarang menguasai hampir US$20,4 miliar dari pangsa pasar. Tren pemberian hadiah yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan [green gifting] juga semakin marak," seperti dikutip melalui Entrepreneur, Jumat (11/9).

Pasar untuk hadiah yang dipersonalisasi saat ini bernilai US$31,63 miliar, dengan jenis barang mulai dari cetakan kanvas, gelas, tatakan meja, sarung bantal dan lain-lain.

Belum lagi, popularitas e-commerce juga disebut-sebut menjadi faktor penyebabnya. Pasar e-niaga global diperkirakan akan tumbuh US$200 miliar pada tahun 2022.

Layanan online khususnya akan mengambil porsi besar. Ini sudah terbukti ketika penjualan online meningkat pesat selama periode penguncian pandemi Covid-19. Kita mungkin tidak akan pernah tahu, industri ini bisa saja menjadi besar di Asia Tenggara hingga Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha tips bisnis tips sukses
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top